Translate

Selasa, 17 November 2009

Benny n Mice




Nahhh ni baru kartun ilustrasi dari Kompas lucu punya. Memberikan berbagai macam gambaran kehidupan dan gaya hidup warga ibu kota dan kehidupan orang indonesia sehari-hari tanpa ada tendensi menghina ataupun mentertawakan.

Bener-bener lucu dan harus punya ni kartun. Karena mungkin gaya hidup anda digambarkan disitu........................

Sabtu, 25 April 2009

47 Ronin




The revenge of the Forty-seven Ronin (四十七士 Shi-jū Shichi-shi), also known as the Forty-seven Samurai, the Akō vendetta, or the Genroku Akō incident (元禄赤穂事件 Genroku akō jiken) took place in Japan at the start of the eighteenth century. The tale has been described by one noted Japanese scholar as the country's "national legend."[1] It recounts the most famous case involving the samurai code of honor, bushidō.

The story tells of a group of samurai who were left leaderless (became ronin) after their daimyo (feudal lord) was forced to commit seppuku (ritual suicide) for assaulting a court official named Kira Yoshinaka, whose title was Kōzukeno suke. The ronin avenged their master's honor after patiently waiting and planning for over a year to kill Kira. In turn, the ronin were themselves forced to commit seppuku — as they had known they would be — for committing the crime of murder. With little embellishment, this true story was popularized in Japanese culture as emblematic of the loyalty, sacrifice, persistence, and honor that all good people should preserve in their daily lives. The popularity of the almost mythical tale was only enhanced by rapid modernization during the Meiji era of Japanese history, when it is suggested[by whom?] many people in Japan longed for a return to their cultural roots.

While sources do differ as to some of the details, the version given below was carefully assembled from a large range of historical sources, including some still-extant eye-witness accounts of various portions of the saga.

Fictionalized accounts of these events are known as Chūshingura. The story was popularized in numerous plays including bunraku and kabuki; because of the censorship laws of the shogunate in the Genroku era which forbade portrayal of current events, the names were changed. While the version given by the playwrights may have come to be accepted as historical fact by some, the Chūshingura was written some 50 years after the fact, and numerous historical records about the actual events that pre-date the Chūshingura survive. The popularity of the story is still high today. With ten different television productions in the years 1997–2007 alone, the Chūshingura ranks among the most familiar of all stories in Japan.

The bakufu's censorship laws had relaxed somewhat 75 years later, when Japanologist Isaac Titsingh first recorded the story of the 47 ronin as one of the significant events of the Genroku era.[2] (Diambil dari www.wikipedia.com).

Kisah 47 ronin merupakan kisah nyata yang terjadi di Jepang pada periode Shogun Tsunayoshi, dimana seorang daimyo muda dari klan Asano yakni Lord Asano Takumi No Kami Naganori menyinggung seorang pejabat upacara di istana shogun dengan melukai pejabat tersebut. Fatal baginya, shogun menghukum daimyo tersebut dengan hukuman seppuku, menyita seluruh harta kekayaan dan membubarkan samurai-samurai pengikut klan Asano. Hal ini tidak bisa diterima oleh para samurai klan Asano sehingga mereka memilih membalas dendam majikan mereka dengan membunuh pejabat istana shogun yakni Lord Kira Kozuke No Suke Yoshinaka. Balas dendam pada Lord Kira dilakukan tepat pada satu tahun pada tanggal kematian majikan mereka dan mempersembahkan kepalanya pada makam majikan mereka di sengakuji.

Pada akhir cerita ini sesuai dengan kisah nyatanya mereka mendapat hukuman dari Shogun untuk melakukan seppuku, hal ini diterima mereka karena merupakan kehormatan luar biasa melakukan seppuku sesuai tatacara samurai dari pada hukuman kepada penjahat seperti di gantung. Buku ini sangat menarik untuk dibaca karena berisi mengenai kesetiaan, kehormatan dan semangat Bushido.

Selasa, 21 April 2009

The Interpreter Of Maladies / Penerjemah Luka

Interpreter Of Maladies atau diterjemahkan secara umum dalam bahasa Indonesia sebagai Penerjemah Luka adalah buku kumpulan cerpen karya Jhumpa Lahiri. Masih menceritakan tentang immigran India di Amerika, perjuangan serta permasalahan yang terjadi, benturan kebudayaan, cinta kasih dan interaksi mereka terhadap lingkungan sekitarnya. Didalam buku ini terdiri dari beberapa cerpen, adapun beberapa yang menurut saya sangat menarik untuk dibaca adalah : Penerjemah Luka, Seksi dan Masalah Sementara.

Diangkat sebagai judul utama buku karangan Jhumpa Lahiri the Interpreter of Maladies menceritakan kisah seorang supir nobil sewaan india yang disewa untuk mengantarkan keluarga india asal amerika yang sedang berlibur di pedalaman India. Sang supir selama perjalanan itu menjadi tempat berkeluh kesah dan berbagi rahasia bagi suami istri tersebut bahkan mengetahui rahasia terdalam sang istri.

Dalam cerita lain yakni Seksi mengenai seorang wanita muda india yang jatuh cinta pada pria beristri dan menyadari kesalahan nya saat dia berkenalan dengan anak dari sepupu temannya.

Sedangkan dalam cerita Masalah Sementara, menceritakan permasalah yang terjadi diantara pasangan muda karena kesibukan masing masing dan terlalu naif untuk mengerti satu sama lain. Permasalahan diantara keduanya mencair saat listrik di rumah padam dan tak ada yang bisa dilakukan kecuali berbicara satu sama lain.

Buku ini enak dinikmati karena menggambarkan permasalahan yang mungkin timbul di kehidupan kita sehari-hari. Santai namun tidak begitu ringan, tetapi bisa menggambarkan emosi masing-masing. Tapi yang suka dengan tema yang lebih ceria sepertinya tidak cocok untuk membaca buku ini dikarenakan banyak ending yang cenderung mengambang dan muram. Tetapi memang sulit menemukan buku lain semenarik buku karangan Jhumpa Lahiri karena secara universal membahas tema-tema tentang kesepian dan terasing yang diungkapkan dalam gaya bahasa sederhana dan mudah dimengerti.


Senin, 20 April 2009

The Namesake


Novel ini menceritakan bagaimana kerasnya perjuangan imigran india di tengah lingkungan Amerika yang terkenal sangat individualis. Hal ini digambarkan dengan tokoh Ashima, Ashoke, Moushumi, dan Gogol.
Novel ini bercerita tentang riwayat hidup seorang pemuda bernama Gogol sebagai tokoh sentral. Mulai dari proses kelahirannya, proses pemberian nama Gogol, sampai akhirnya ia tumbuh dewasa, menjalani proses pendewasaan dalam dirinya yang membuat ia memandang orang tuanya bukan sebagai orang tua yang kolot, tapi sebagai orang tua yang sederhana yang menjalani semua ritual yang sebenarnya ditujukan untuk anak-anaknya. Lebih dari pencarian jati diri seorang Gogol, lebih dari perasaan yang berkecamuk pada diri seseorang saat mengetahui nama yang dimiliki sangat aneh, absurd, sama sekali bukan nama Amerika ataupun India, seseorang yang menginginkan nama akan lebih sederhana dan lebih berarti.
Novel ini mengalir dengan tenang, santai tapi diiringi gejolak-gejolak diantara tokohnya. Tenang tapi tidak membuat kita merasa bosan, karena penggambaran Jhumpa Lahiri yang detail terhadap lingkungan sekitarnya membuat kita membayangkan apa sebenarnya yang terjadi dan konflik batin apa yang terjadi diantara tokoh-tokohnya.
Berikut ini adalah kutipan favorit yang dapat pembaca temukan dalam buku ini :

Ashoke: apakah kau akan mengingat hari ini, Gogol?

Gogol: Berapa lama aku harus mengingatnya?

Ashoke:Cobalah selalu Mengingatnya.

Ashoke: Ingat bahwa kau dan aku melakukan perjalanan ini,
bahwa kita pergi bersama-sama ke tempat yang paling ujung, dan
tidak bisa ke mana-mana lagi setelah itu.


Buku ini sangat menarik untuk dibaca, merenungi diri kita. Apakah arti nama yang diberikan orang tua pada diri kita dan seberapa berartinya nama itu bagi mereka.

Sebagai catatan, Novel ini telah di filmkan dengan bintang utama Kal Pen.

Sabtu, 18 April 2009

The Alchemist


This is a very short book that reads like fairytale or fable and has a strong moral to it, without being pushy or didactic. Its about spanish sheperd boy, who told by a fortune teller to follow his heart.

Consequently, he sells his sheep n sets off for north africa to find his treasure, but eventually he falls in love and ends up back he started, in spain, with his true love.

I have already read this book both in english and indonesian, there are many sentences that i really luv to read and think.

… the language that everyone on earth was capable of understanding in their heart; it was love. … and when two such people encounter each other and their eyes meet, the past and the future become unimportant.

It’s not what enters men’s mouths that’s evil; It’s what comes out of their mouths that is.

Remember that wherever your heart is, there you will find your treasure.

Fatima is a woman of the desert; She knows that men have to go away in order to return. And she already has her treasure: it’s you. Now she expects that you will find what it is you’re looking for.

You must understand that love never keeps a man from pursuing his destiny. If he abandons that pursuit, it’s because it wasn’t true love… the love that speaks the Language of the World.

You will never be able to escape from your heart. So it’s better to listen to what it has to say. That way, you’ll never have to fear an unanticipated blow.

Wherever your heart is, that is where you’ll find your treasure.

One is loved because one is loved. No reason is needed for loving.

Trust in your love…

The message is that yous should always follow your heart and that we all make our own fate

Truly it was a great book; I've found that its a great book to recommend to friends who are worried or on the brink of making a big decision.


buku@wisnujourneys


Semua resensi mengenai buku-buku yang sifatnya hiburan, ringan sampai dengan berat baik dalam bahasa indonesia maupun barat, yang dapat menghiasi hidup kita dengan isi di dalamnya. Dimana Kita bisa memainkan imajinasi bebas kita sesuai para tokoh dan lingkungan dalam novel tersebut tanpa malu pada orang lain.
Selamat menikmati.......................................